Gunung Rinjani merupakan salah satu dari Seven Summits Indonesia. Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua dan merupakan gunung tertinggi ketiga di Indonesia. Dengan ketinggian 3.726mdpl, gunung Rinjani dikenal dengan keindahan pemandangannya, karena luasnya sabana yang terhampar di jalur pendakian, selain itu juga ada segara anakan dan gold sunrise dari puncak Rinjani yang luar biasa.
Rinjani bias ditempuh melalui beberapa jalur yang terkenal seperti Sembalun dan Senaru. Selain dua jalur tersebut ada satu jalur yang lumayan ekstrim yaitu melalui jalur Timbanuh. Awal perjalanan saya dan teman-teman ke Rinjani hanya bermula dari obrolan biasa sambil ngopi larut malam di rumah kontrakan di Yogyakarta.
Berangkat menggunakan kereta dari stasiun Lempuyangan Yogyakarta tanggal 13 Agustus 2014 pukul 7 pagi dan sampai di banyuwangi, pelabuhan Pelabuhan ketapang pukul 8 malam. Setelah isitirahat kita langsung menyebrang ke Gilimanuk Bali, dan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Padang Bai Bali dengan menggunakan bus umum memakan waktu sekitar 5-6 jam. Dini hari 14 Agustus 2014 sampai di Padang Bai sekitar waktu Subuh, menunggu kapal keberankgatan ke pelabuhan Lembar Lombok pukul 6.30.
Tim kami yang terdiri dari 9 orang dan sebagian besar berasal dari desa sangat kelelahan ketika banyak dari kami yang mabuk laut, karena tak kami kira kapalnya bias segoyang inul. Karena kelelahan kami bersandar di pelataran kapal dengan tas carrier sebagai bantal kamipun istirahat dan tertidur. Sekitar jam 12 siang kita mendekat ke Pelabuhan Lembar dan berfoto ria walaupun muku kucel bangun tidur dan akibat mabuk laut. Tapi kami senang, bahkan sempat di perjalanan mengobrol dengan Bule yang mau libuan di Lombok.
Sampai di Lombok kami dijemput mbah Slamet dengan Kijang Kotaknya yang classic warna biru, kami rela menekuk kaki kaki kami, lutu kami berciuman satu sama lain, sungguh sangat mesra lutut kami. Kamipun dibawa menuju ke Ampenan ke rumah mbah Bado dekat museum. Disana kami langsung antri mandi, karena keringetnya ya ampun, dari basah nyampe kering basah lagi.
Sore itu pun ada obrolan kecil karena kita belum dapat angkutan ke Sembalun. Karen penawaran kebanyakan di luar budget kami, kalau kami terima ya kami ngga bias pulang atau mengurangi prosi makan. Akhirnya saya putuskan untuk menghubungi teman kos saya semasa kuliah di Yogyakarta. Teman saya yang asli Aikmel itu pun paham betul masalah seperti ini setelah saya ceritakan. Akhirnya dia bersedia membantu dan saya dikasih nomer handphone omnya, akrena teman saya sibuk mengajar di salah satu SMK di Lombok. Oh iya Aikmel itu letaknya di jalur menuju Sembalun, biasanya para pendaki yang lewat jalur Sembalun berhenti sejenak di pasar Aikmel untuk melengkapi bekal mendaki.
Sekitar Pukul 1 siang kami sampai di Sembalun, berhenti sejenak di Gardu pandang sembalun menyempatkan foto bersama kera liar. Setelah lanjut perjalanan ke pos pendakian, kami langsung mengurus ijin pendakian dan melanjutkan mendaki pada pukul 3. Tancap gas dari pos pendakian belum menggunakan kaki, karena jarak dari pos pendakian masih jauh ke gerbang pendakian, maka kami charter pick up lagi, karena harus milik orang sembalun, akhirnya kita naik angkutan sama bapak yang merupakan orang lokal, dan ternyata adalah guide, dan nanti akan saya ceritakan.
Setelah sampai di gerbang pendakian kami langsung berjalan. Oh iya tadi sama bang Dzakir karena sama sudara teman saya kita cuman ganti bensin sama kasih buat beli rokok dan selebihnya terima kasih, maklum lah budget mahasiswa mepet. Berjalan setelah melewati pos 1 dan pos 2 akhirnya jam 8 malam kita sampai di pos 3 untuk membuka camp dan istirahat, karena besok akan menghadapi Bukit Penyesalan.
Paginya setelah selesai sarapan kami langsung tancap gas lanjut perjalanan pada pukul 9 tanggal 16 Agustus 2014. Di depan kami bukit penyesalan, yang akan kita hadapi hari ini. Berjalan seperti keong akhirnya kita sampai di Plawangan Sembalun jam 17 sore dengan muka kucel karena terkena debu. Sesampainya di Plawangan Sembalun kita langsung tancap gas buat buka tenda dan istirahat karena persiapan buat summit attack.
Alarm kita aktifkan untuk jam 11 malam, namun kita terbangun pukul 12, alhasil kita harus summit attack pukul 1 dini hari tanggal 17 Agustus 2014. Kita termasuk dalam rombongan yang terakhir, terlihat dari bawah deretan orang orang memegang senter seperti penampakan ular naga panjangnya bukan kepalang.
Karena pada waktu itu adalah musim panas, udara di malam hari terasa sangat dingin, saya termasuk orang yang nggak kuat dingin, walaupun dengan mandset, kaos, kemeja, dan jaket serta dengan bawahan celana jeans dan training, suhu udara yang sangat dingin mampu menusuk ke tulang-tulang. Baru sekitar 1 jam perjalanan summit attack, mie yang sebelumnya saya makan buat energy muncak keluar lagi, karena terasa mual, bahkan sampai dipijit orang di jalur pendakian, karena tim kami terpisah. Paling tragis lagi adalah ketika salah satu botol minuman yang kami bawa jatuh ke lereng yang curam, dan terpaksa kami harus merelakannya.
Setalah beberapa menit berkumpul bersama teman-teman untuk beristirahat sejenak, karena fisik yang terlalu lelah. Kami duduk saling memunggungi saling menutupi punggung kami dari udara dingin, tangan mengepal, dan dilipat didepan dada, kaki ditekuk sedekat-dekatnya dengan badan, agar badan terasa hangat, tidak lupa kami membawa 1 buah Sleeping Bag buat jaga-jaga yang akhirnya bermanfaat juga.
Di tengah peristirahatan kami, kami heran melihat banyaknya bule yang menggunakan jaket tipis, bahkan ada yang tidak menggunakan jaket, hanya sebatas sweater dan kaos lengan panjang. Mungkin cuaca di Negara mereka sama dinginnya dengan Gunung Rinjani sehingga sudah terbiasa.
Menjelang sunrise, kami tidak kunjung sampai puncak, sepertinya di Puncak sudah mulai persiapan untuk upacara kemerdekaan. Karena di perjalanan sebelumnya kami bertemu dengan orang-orang dari lembaga yaitu BNN dan dari anggota TNI, mungkin salah satu dari mereka yang memimpin upacara.
Ketika sunrise muncul, begitu kagumnya, saya berdua dengan teman saya berada di tengah, tertinggal dari rombongan 4 anak di depan, dan masih ada dibelakang saya 3 anak, kami berduapun berhenti sejenak karena ingin menikmati golden sunrise yang paling indah selama beberapa tahun terakhir aktif mendaki gunung. Sungguh tidak bias diungkapkan dengan kata-kata, cukup mata yang melihat.
Setelah sunrise, kami melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan rombongan paling depan yang ternyata kelelahan. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu rombongan paling belakang, sekitar 1 jam kami duduk-duduk dan foto-foto berenam, akhirnya kami rombongan 3 orang paling belakang sampai pada titik kami istirahat, melihat kondisi fisik dan waktu tempuh sekaligus jarak yang sangat jauh dari puncak, akhirnya kami memutuskan untuk tidak muncak, karena resiko akan turun dari puncak sore hari. Demi keselamatan kami turun sekitar jam 9, cukup berfoto di jalur pendakian ke puncak yang serasa puncak, bedanya nggak foto sama plat 3.726mdpl.
Kondisi fisik yang lelah membuat kami batal untuk menginap di segara anak dan turun lewat senaru. Akhirnya kita menginap lagi di Plawangan Sembalun. Esok harinya 18 Agustus 2014, saya berkenalan dengan orang Jakarta dan ternyata Guide yang mereka pakai adalah Bapak angkutan yang mengantar rombongan kami dari pos pendakian sampai gerbang pendakian, saya lupa sama bapaknya tapi bapaknya ingat.
Akhirnya kami turun dengan berpuluh-puluh kali terjatuh dan terpleset di bukit penyesalan yang cukup terjal. Sampai kami harus memakan waktu setengah hari itu hingga pos 3. Karena sudah sore dan dikhawatirkan tidak ada angkutan, kami memutuskan untuk camp kembali di bawah pos 2. Kami beristirahat dengan air minum tinggal 1 botol dan sisa makanan yang masih bias di masak. Entah jadi apa mie yang dimasak dengan sayur nggak jelas dan sisa sosis. Ada sebagian yang istirahat dan ada yang memasak karena lapar.
Esok harinya 19 Agustus 2014 kami melanjutkan perjalanan ke pos pendakian, air kami pun habis. Kuat nggak kuat kami harus sampai pos pendakian tanpa minum.Saya berempat berada di rombongan paling belakang, karena capek dan sibuk foto-foto. Karena ada teman perempuan kami yang kelelahan, akhirnya dia nekad ketika sampai perkampungan mengetuk rumah warga, dan meminta air. Alhamdulillah, tuan rumah yang baik kami dipersilakan minum sebanyak-banyaknya, bahkan dipersilahkan ke dapur untuk membuat kopi. Sebenarnya ditawari makan, tapi kami tolak karena kami memang haus doang.
Sesampainya di pos pendakian, kami langsung bersih-bersih, dan sayapun menelfon bang Dzakir untuk minta tolong menjemput. Disana kami makan di warung dan disajikan sambal khas Lombok. Cukup enak dan mengganjal perut. Ternyata saya baru tahu kalau salah satu dari tim saya ada yang kehilangan tas kecil, berisi dompet dan identitas serta hp kecil, untungnya uangnya di tinggal di Ampenan. Akhirnya teman saya lapor ke polsek setempat dan dibuatkan laporan, karena untuk perjalanan pulang nanti butuh identitas. Sesampainya jemputan di pos pendakian kami langsung tancap gas kembali ke Ampenan.
Sesampainya di Ampenan kami langsung istirahat. Esoknya 2 hari berturut turut kami explore Lombok dengan berbagai destinasi seperti Pantai kuta Lombok, Tanjung An, Senggigi, Gili Trawangan, dll. Tidak lupa juga untuk mencicipi ayam Taliwang bersama keluarga Mbah Slamet dan Mbah Bado yang menjadi orang tua kami disana. Selesai itu semua, kami langsung pulang dengan rute perjalanan yang hamper sama. Intinya perjalanan dari Yogyakarta ke Lombok itu butuh waktu 2 hari plus istirahat di Lombok yang setengah harinya.
Untuk mendaki rinjani disarankan membawa baju hangat, jaket tebal, dll karena udara yang cukup dingin. Jagalah selalu barang bawaan kalian ketika mendaki Rinjani. Untuk sewa mobil di Lombok harus menggunakan KTP orang Lombok. Biaya Rp. 1.200.000 untuk 12 hari termasuk perjalanan, mendaki, hidup di Lombok, numpang dan dibiayai orang sana baik teman atau keluarga itu bonus. Mungkin itu cerita saya, semoga bermanfaat bagi teman-teman..